HUBUNGAN SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT DENGAN PENDIDIKAN
BAB 1. PENDAHULUAN
Latar belakang
Seperti kita ketahui, pendidikan berlangsung dalam pergaulan atau interaksi antara pendidik dengan peserta didik. Interaksi antara guru (pendidik) dengan murid (peserta didik) di sekolah berlangsung dalam suatu proses belajar mengajar pada dasarnya merupakan kegiatan sosial. Itulah sebabanya, kegiatan belajar-mengajar itu tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat dimana kegiatan tersebut berlangsung.
Proses belajar mengajar di sekolah, juga mendapat pengaruh dari institusi lain di luarnya, seperti teman sebaya, keluarga dan masyarakat dalam arti yang luas. Sosiobudaya dari institusi-institusi ini akan mempengaruhi sosiokultural yang ada di sekolah.
Tetapi juga sebaliknya, sekolah mempunyai pengaruh yang besar terhadap institusi sosial di luarnya. Sekolah berfungsi sebagai pewaris, pemeliharaan dan pembaharuan kebudayaan dari generasai terdahulu kepada generasi sekarang dan penerus. Jadi, antara sekolah dengan institusi sosial di luarnya mempunyai hubungan timbal balik.
Rumusan Masalah
Pada dasawarsa terakhir, wacana multikulturalisme menjadi isu penting dalam upaya pembangunan kebudayaan di Indonesia . Hal ini menurut hemat penulis didasarkan beberapa alasan.
Pertama, bahwa secara alami atau kodrati, manusia diciptakan Tuhan dalam keanekaragaman kebudayaan, dan oleh karena itu pembangunan manusia harus memperhatikan keanekaragaman budaya tersebut. Dalam konteks ke-Indonesia-an maka menjadi keniscayaan bahwa pembangunan manusia Indonesia harus didasarkan atas multikulturalisme mengingat kenyataan bahwa negeri ini berdiri di atas keanekaragaman budaya.
Kedua, bahwa ditengarai terjadinya konflik sosial yang bernuansa SARA (suku, agama, dan ras) yang melanda negeri ini pada dasawarsa terakhir berkaitan erat dengan masalah kebudayaan. Dari banyak studi menyebutkan salah satu penyebab utama dari konflik ini adalah akibat lemahnya pemahaman dan pemaknaan tentang konsep kearifan budaya. Menurut AlQadrie (2005), Profesor Sosiologi pada Universitas Tanjungpura Pontianak, berbagai konflik sosial yang telah menimbulkan keterpurukan di negeri ini disebabkan oleh kurangnya kemauan untuk menerima dan menghargai perbedaan, ide dan pendapat orang lain, karya dan jerih payah orang lain, melindungi yang lemah dan tak berdaya, menyayangi sesama, kurangnya kesetiakawanan sosial, dan tumbuhnya sikap egois serta kurang perasaan atau kepekaan sosial. Hal sama juga dikemukakan oleh Rahman (2005) bahwa konflik-konflik kedaerahan sering terjadi seiring dengan ketiadaan pemahaman akan keberagaman atau multikultur. Oleh karena untuk mencegah atau meminimalkan konflik tersebut perlu dikembangkan pendidikan multikulturalisme.
Ketiga, bahwa pemahaman terhadap multikulturalisme merupakan kebutuhan bagi manusia untuk menghadapi tantangan global di masa mendatang. Pendidikan multikultural mempunyai dua tanggung jawab besar, yaitu menyiapkan bangsa Indonesia untuk siap menghadapi arus budaya luar di era globalisasi dan menyatukan bangsa sendiri yang terdiri dari berbagai macam budaya. Bila kedua tanggung jawab besar itu dapat dicapai, maka kemungkinan disintegrasi bangsa dan munculnya konflik dapat dihindarkan.
BAB 2. ISI
Sosial Budaya Pendidikan
1. Hakikat Pendidikan
Pendidikan merupakan sarana utama untuk mensukseskan pembangunan nasional, karena dengan pendidikan diharapkan dapat mencetak sumber daya manusia berkualitas yang dibutuhkan dalam pembangunan. Titik berat pembangunan pendidikan diletakkan pada peningkatan mutu setiap jenjang dan jenis pendidikan serta perluasan kesempatan belajar pada jenjang pendidikan dasar. Pendidikan juga merupakan hal mutlak yang harusdipenuhi dalam upaya meningkatkan taraf hidup suatu bangsa agar tidak sampai menjadibangsa yang terbelakang dan tertinggal dengan bangsa lain.Pendidikan saat ini telah direduksikan sebagai pembentukan intelektual semata,sehingga menyebabkan terjadinya kedangkalan budaya dan hilangnya identitas lokal dan nasional .
Pengertian pendidikan secara luas berarti kelanjutan kehidupan sosial. Masing-masing dari unsur memilih kelompok sosial, kota modern seperti di suku yang keja kehidupannya, lahir belum matang, tidak berdaya, dengan keluar bahasa, kepercayaan,ide, atau standar sosial. Tiap individu dan setiap satuan yang membawa pengalamanhidup kelompok masing-masing dan pada waktu tertentu melampaui batas pengalamansehingga individu terus dapat hidup dengan kelompoknya.
Kurikulum dalam artian sempit merupakan sebagai pokok mengajar dan arti luas sebagai semua pengalaman belajar, baik dalam dan keluar sekolah, di bawah pengawasan sekolah sehingga pelajaran berupaya menciptakan pengalaman belajar bagi siswa perlu mendapat prioritas yang utama dalam kegiatan pembelajaran.
kajian mengenai dasar sosial dan budaya dari pendidikan bertujuan untuk membekali guru dengan pengetahuan yangmendalam tentang masyarakat dan kebudayaan di mana mereka hidup dan untuk membantu calon guru untuk mengetahui bahwa pengertian mengenai masyarakat dankebudayaan sangat penting artinya guna memahami tentang masalah pendidikan.
Pendidikan merupakan proses pemanusiaan untuk menjadikan manusia memiliki rasakemanusiaan, menjadi manusia dewasa, dan manusia seutuhnya agar mampumenjalankan tugas pokok dan fungsi secara penuh dan mengembangkan budaya.
2. Konsep Dasar Sosial Budaya
Program-program pendidikan mencerminkan kehidupan dan kondisi-kondisi suatu masyarakat. Program tersebut tidak dapat dipisahkan dari kekuatan-kekuatan sosial budaya, karena ia akan memberikan arah kepada pendidikan itu. Oleh sebab itu, kajian tentang dasar-dasar sosial budaya sangat penting artinya bagi calon guru dan tenaga kependidikan lainnya.
Kajian ini memberikan bekal pengetahuan kepada calon guru dan tenaga kependidikan lainnya dalam hal : memhami isu-isu dan masalah-masalah sosial budaya dalam masyarakat terutama yang menyangkut perubahan sosial-budaya.mengembangkan tujuan kulikuler mata pelajaran tertentu. Memungkinkan guru berfungsi lebih baik dalam membenmtuk murid-muridnya menjadi masyarakat yang lebih relevan dengan harapan-harapan masyarakat tertentu.
Masyarakat secara umum dapat di artikan sebagai : “sekolompok individu yang berintegrasi secara teroganisasi yang mengikuti suiatu cara kehidupan tertentu. Masyarakkat di bentuk oleh orang-orang, cara merteka bertingkah laku merupakan kebudayaan. (Imran Manam, 1989:6)
Kebudayaan merupakan hasil cipta, karsa, dan rasa manusia berupa norma-norma nilai-nilai kepercayaan dan tingkah laku yang di pelajari dan dimiliki oleh semua individu (anggota masyarakat) tertentu. Hasil-hasil yang tidak dipelajari seperti hal-hal yang bersumber dari refleks yang dasar naluri atau insting tidak termasuk kebudayaan.
Hasil-hasil cipta, karsa dan rasa manusia tersebut dapat digolongkan atas : gagasan, kegiatan dan benda hasil karya. Ketiga bentuk ini merupakan wujud kebudayaan (Arbi, 1993:67)
Selanjutnya hasil-hasil cipta, karsa dan rasa manusia yang di sebut kebudayaan itu dapat di golongkan ke dalam: unsur universal dan unsur bersifat khusus. Unsur yang universal adalah kebudayaan yang berlaku umum bagi setiap manusia di muka bumi ini. Unsur yang khusus adalah unsur-unsur yang terdapat dalam unsur unsure universal, misalnya : bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan dan teknologi, sistem mata pencaharian, sistem agama, kesenian, dan sebagainya.
1.Karakteristik Sosial Budaya Pendidikan
Potensi yang dimiliki manusia yaitu otak mampu menghasilkan kebudayaan, hasil dari potensi yang tercermin dari berbagai hasil manusia merupakan sumber pembentukan kebudayaan. Kebudayaan merupakan pengalaman universal manusia, manifestasi lokaldan regionalnya bersifat unik. Sosial budaya bersifat dinamis tetapi juga bersifat dinamis,dengan adanya perubahan terus menerus dan tetap.
Berdasarkan kajian tentang sosial budaya Murdock (1965) mengidentifikasi karakteristik kebudayaan yang bersifat universal, yaitu
a) Kebudayaan dipelajari dan bukan bersifat insting, karena itu kebudayaan tidak dapat diselidiki asal usulnya dari gen atau kromosom,
b)Kebudayaan ditanamkan, generasi baru tidak memiliki pilhan tentang kurikulum kebudayaan. Hanya manusia yang dapat menyampaikan warisan sosialnya dangenerasi berikutnya dapat menyerap dan mengembangkan,
c)Kebudayaan bersifat sosial dan dimiliki bersama oleh manusia dalam berbagai masyarakat yang terorganisir,
d)Kebudayaan bersifat gagasan, kebiasaan-kebiasaan kelompok dikonsepsikan ataudiungkapkan sebagai norma-norma ideal atau pola perilaku
,e)Kebudayaan sampai pada satu tingkat memuaskan individu dan kebutuhan kelompok sosial secara budaya dapat didefinisikan,
f)Kebudayaan bersifat integratif, selalu ada tekanan ke arah konsistensi dalam setiap kebudayaan, jika tidak maka konflik akan cepat menghancurkannya. Kebudayaan yang terintegrasi dengan baik memiliki kepaduan sosial (social cohesion) diantara institusi dan kelompok sosial yang mendukung kebudayaan tersebut.
2.Transmisi Sosial Budaya Pendidikan
Kajian sosial budaya pendidikan dari masa ke masa mengalami perubahan secara terminologis (peristilahan). Istilah tersebut mencakup enkulturasi (pembudayaan),sosialisasi (pemasyarakatan), pendidikan, dan sekolahan. Istilah tersebut sangat penting dikaji dalam pendidikan karena berguna untuk menjelaskan gejala yang terjadi dalam bidang pendidikan.
3.Hubungan Sosial Budaya dengan Pendidikan
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional BabI pasal 1 ayat 2 menyatakan bahwa pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia, dan tanggap terhadap tuntutan zaman.
proses pendidikan memiliki dua aspek yang saling mengisi, yaitu sebagai proses hominisasi dan proses humanisasi:
a)Hominisasi
Pendidikan sebagai proses hominisasi melihat manusia sebagai mahluk hidup didalam dunia dan ekologinya. Proses hominisasi tersebut manusia memerlukan kebutuhan biologis seperti makan, beranak pinak, memerlukan pemukiman, dan pekerjaan untuk menopang kehidupan. Proses hominisasi memenuhi kebutuhan manusia sebagai mahluk biologis. Pendidikan harus mampu menghasilkan output kompetitif yang mampu bersainguntuk mendapatkan pekerjaan dalam menopang kehidupannya yang lebih baik secara ekonomis dan sosial.
b)Humanisasi
Pendidikan melihat manusia sebagai mahluk yang bermoral (human being.) Mahluk yang bermoral berarti bahwa manusia bukan hanya sekedar hidup tetapi hidup untuk mewujudkan eksistensi, yaitu bahwa manusia hidup bersama-sama dengan sesame manusia sebagai ciptaan Yang Maha Kuasa. Proses humanisasi tingkah laku manusia diarahkan kepada nilai-nilai kehidupan yang vertikal di dalam kenyataan hidup bersama dengan manusia lain.
3. Peranan Sekolah Sebagai Pewaris dan Pemelihara Kebudayaan
a. Peranan sebagai Pewaris
Kebudayaan, seperti yang dikemukakan terdahulu, adalah hasil cipta dan karsa manusia berupa norma-norma,nilai-nilai,kepercayaan dan tingkah laku yang dipelajari dan dimiliki oleh semua anggota masyarakat tertentu. Hasil cipta dan karsa tersebut tidak dengan sendirinya dimiliki oleh anak tanpa diajarkan kepada anak.
Keseluruhan proses dimana para murid belajar mengikuti pola-pola dan nilai budaya ini,disebut proses sosiallisasi .Proses ini harus berjalan dengan wajar dan mulus.
Para guru disekolah harus dapat berperan sebagai model kebudayaan agar dapat ditiru oleh para murid-muridnya.Dengan cara seperti ini murid dapat memahami dan mengadopsi nilai-nilai budaya masyarakatnya. Guru harus pula mampu mengajarkan nilai-nilai yang dianut atau yang diyakini oleh masyarakat tempat sekolah itu berada. Pendidikan mengenai kedisiplinan, kemauan untuk bekerja keras,kehidupan bernegara,menghormatai nilai-nilai perjuangan bangsa,rasa keadilan dan persamaan, peraturan perundangan dan sebgainya perlu diajarkan pada anak.
b. Peranan sebagai Pemelihara
Untuk memelihara nilai-nilai kebudayaan, sifat egoisme perlu dihilangkan hingga nilai moral yang diharapkn dapat terpelihara dengan baik. Sekolah harus memantau (memonitor) perkembangan prilaku muridnya agar terhindar dari prilaku yang destruktif. Guru juga harus dapat menjadi konselor bagi para muridnya dalam membimbing dan memotifasi murid agar terhindar dari perbuatan yang melanggar atau menyimpang.
Usaha pemerintah melalui Depdikbud dalam rangka melestarikan dan mempertahankan nilai-nilai budaya daerah dan bangsa adalah dengan menetapkan kurikulum sekolah beserta buku teks yang standar,kurikulum tersebut bermuatan lokal (daerah)di samping muatan nasional.
c. Peranan sebagai Agen Pembaharuan Kebudayaan
Pendidikan sekolah juga berfungsi sebagai memacu terjadinya perubahan social, perubahan ini antara lain reproduksi budaya,difusi kebudayaan,analisis budaya,modifikasi tingkat-tingkat social ekonomi tradisional. Beberapa dari fungsi itu yang mungkin dilakukan melalui pendidikan adalah sebagai berikut.
- Reproduksi Budaya
Murid diajarkan nilai-nilai atau kebiasaan guru seperti orientasi ekonomi,kemandirian ,mekanisme kompetensi sehat,kerja keras. Orintasi in dilakukan untuk mengatasi nilai hidup yang tradisional,pasrahdan meyerah pada nasib,tidak berani menanggung resiko,kurang mandiri.
Nilai atau kebiasaan baru,diberikan secara langsung melalui mata pelajaran yang relevan, nilai hidup sehat dan cinta lingkungan dapat diberikan dengan program ekstrakurikuler.
- Difusi Kebudayaan
Difusi kebudayaan dapat dilakukan melalui murid,murid dibimbing dibantu menyebarkan atau menularkan hasil kebudayaan yang diperolehnya di sekolah. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang diperoleh siswa disekolah diterapkan didalam keluarga atau masyarakat. Hasil keterampilan tertentu dapat dimanfaatkan atau dikonsumsi keluarganya.
- Peningkatan Kemampuan Murid berpikir Kritis
Guru hendaklah dapat menanamkan keyakinan dan nilai baru tentang cara berpikir kritis pada muridnya. Sikap tidak mudah menyerah pada situasi dan kondisi yang ada,tanggap terhadap perubahan perlu diterapkan pada murid. Cara berpikir kritis dapat diajarkan melalui pendekatan yaitu menciptakan situasi belajar-mengajar yang memungkinkan murid menggunakan pikiran atau daya nalarnya misalnya dengan menggunakan metode pemecahan masalah.
BAB 3. PENUTUP
KESIMPULAN
Pengaruh Timbal Balik Antara Sekolah Dengan Masyarakat
Perubahan-perubahan social yang terjadi di luar sekolah tidak dapat dipisahkan dan selalu merupakan sebab dari perubahan atas penyesuain di sekolah dan sebaliknya. Dan sudah merupakan ketentuan bahwa:
a) Perubahan lingkungan fisik,social,politik,ekonomi,akan menentukan perubahan konsepsi manusia tentang kehidupan.
b) Perubahan konsepsi manusia tentang kehidupan akan menentukan atau mengubah konsepsi manusia tentang pendidikan
c) Perubahan konsepsi tentang pendidikan akan mengubah konsepsi tentang tujuan pendidikan
d) Perubahan konsepsi tentang tujuan pendidikan akan mengubah konsepsi manusia tentang jenis dan jenjang pendidikan, materi dan metodre mengajar
e) Perubahan konsepsi tentang tujuan pendidikan merupakan akibat yang disebabkan oleh suatu usaha penyesuaian terhadap perubahan lingkungan dan tujuan hidup manusia
Pandangan filosofis tentang hakikat sekolah itu sendiri dan hakikat masyarakat, dan bagaimana hubungan antara keduanya.
a) Sekilah adalah bagian yang integral dari masyarakat; ia bukan merupakan lembaga yang terpisah dalam masyarakat.
b) Hak hidup dan kelangsungan hidup sekolah bergantung pada masyarakat.
c) Sekolah adalah lembaga sosial yang berfungsi untuk melayani anggota-anggota masyarakat dalam bidang pendidikan.
d) Kemajuan sekolah dan kemajuan masyarakat saling berkolerasi; keduanya saling membutuhkan.
e) Masyarakat adalah pemilik sekolah; sekolah ada karena masyarakat memerlukannya.
Jenis-jenis hubungan sekolah dan masyarakat
Hubungan kerja sama antara sekolah dan masyarakat itu mengandung arti yang luas mencakup beberapa bidang. Bidang-bidang yang ada hubungannya dengan pendidikan anak-anak dan pendidikan masyarakat. Hubungan kerja sama sekolah dan masyarakat itu dapat digolongkan menjadi tiga jenis hubungan yaitu:
a) Hubungan edukatif yaitu hubungan kerja sama dalam bidang mendidik/murid, antara guru disekolah dan orang tua didalam keluarga.
b) Hubungan kultural yaitu hubungan kerja sama antara sekolah dengan masyarakat yang memungkinkan adanya saling membina dan mengembangkan kebudayaan masyarakat tempat sekolah itu berada.
c) Hubungan institusional yaitu hubungan kerja sama antara sekolah dengan lembaga-lembaga atau instansi-instansi resmi lain, baik swasta maupun pemerintah.
SARAN
Lingkungan sosial dapat di kelompokan menjadi empat kategori yang satu sama lain saling berkaitan, hal ini yang perlu kita terapkan dalam meningkatkan hubungan sosial budaya dalam pendidikan.
1. Fisik, teknologi, dan sumber manusia (physical, technological, and resources).
2. Sistem hubungan keluarga dalam masyarakat (relational system in the community).
3. Jaringan-jaringan organisasi (the network of Organizations).
4. Cara-cara berpikir, kepercayaan dan nilai-nilai (patterns of thought, belief, and values) yang ada dan dianut oleh masyarakat.
Pronomaster - Titanium Pry Bar | The Tantric Arts
BalasHapusThis ford fusion titanium stainless steel pry bar is ideal for cutting and binding the glazed prawns on your back, or titanium sheets on titanium flashlight your back titanium dioxide sunscreen with titanium glasses frames the glazed pork chops.